Liputan6.com, Jakarta - Commonwealth Fusion Systems (CFS), sebuah startup yang bergerak di bidang pengembangan energi fusi, baru saja mendapatkan suntikan dana yang besar dari sejumlah investor ternama.
Total pendanaan yang berhasil dikumpulkan jumlahnya sangat fantastis, yaitu mencapai USD 863 juta atau sekitar Rp 14,2 triliun.
Mengutip TechCrunch, Minggu (31/8/2025), beberapa nama besar di dunia teknologi dan bisnis ikut berinvestasi juga dalam pendanaan ini, seperti Nvidia, Google, dan Bill Gates lewat perusahaannya bernama Breakthrough Energy Ventures.
Pendanaan besar ini menunjukkan bahwa energi fusi kini semakin dipandang sebagai bidang yang menjanjikan dan menarik minat bagi banyak investor.
Energi fusi sendiri juga sudah lama dianggap sebagai sumber energi yang hampir tidak ada habisnya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir para investor baru mulai berani mengambil risiko untuk teknologi ini.
Fokus pada Komersialisasi Energi Fusi
Bob Mumgaard, salah satu pendiri dan CEO CFS, mengatakan putaran pendanaan ini bukan hanya sekadar untuk mengembangkan energi fusi secara umum.
Ia menegaskan, fokus utama saat ini adalah untuk mengubah konsep energi fusi menjadi sebuah industri yang komersial.
"Kami melanjutkan tren untuk melihat dunia dan bertanya, 'Bagaimana kami memajukan fusi secepat mungkin?'" ujar Mumgaard kepada wartawan.
“Putaran modal ini bukan hanya tentang fusi sebagai konsep, tetapi tentang bagaimana kita membuatnya menjadi upaya komersial dan industrial," ia menambahkan
Dengan dana hampir USD 3 miliar atau sekitar Rp 49,5 triliun yang telah terkumpul, CFS menjadi startup energi fusi dengan pendanaan terbesar di dunia.
CFS sebelumnya berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 1,8 miliar atau sekitar Rp 29,7 triliun pada tahun 2021.
Pembangunan Reaktor Prototipe SPARC
Saat ini, CFS sedang berfokus pada pembangunan reaktor prototipe yang mereka beri nama SPARC. Proyek ini berlokasi di pinggiran kota Boston, Amerika Serikat.
Perusahaan berencana menyalakan perangkat ini pada akhir tahun depan dan berharap bisa mencapai titik impas ilmiah (scientific breakeven) pada 2027.
Titik impas ilmiah bisa dibilang momen yang penting dalam penelitian energi fusi. Sederhananya, ini adalah saat mesin fusi berhasil menghasilkan energi lebih banyak daripada energi yang dipakai untuk menyalakannya.
Walaupun reaktor SPARC belum dibuat untuk langsung menjual listrik ke jaringan, keberhasilannya tetap sangat penting bagi masa depan CFS dalam jangka panjang.
Ini akan membuktikan kelayakan teknologi mereka, kemudian dapat dikembangkan menjadi reaktor skala komersial yang dapat menghasilkan listrik ke masyarakat.
Memanfaatkan AI untuk Percepat Riset
Menurut laporan, energi fusi sekarang menjadi bidang yang menarik bagi banyak startup dan investor.
Minat besar ini muncul karena adanya kemajuan besar di dunia komputasi dan kecerdasan buatan (AI). Teknologi-teknologi ini membuat penelitian dan pengembangan berjalan jauh lebih cepat.
Jika dulu menyelesaikan sebuah proses butuh bertahun-tahun, sekarang bisa dilakukan hanya dalam beberapa bulan saja.
Berkat dibantu dengan AI, para peneliti sekarang bisa menjalankan simulasi proses ini dengan lebih efisien, menemukan solusi teknis dalam waktu lebih cepat, dan dapat mengurangi biaya eksperimen.
Hal tersebut menjadi kunci utama yang membuat para investor besar berani menggelontorkan dana dalam jumlah besar.