DPR Tekankan Urgensi RUU Hukum Perdata Internasional untuk Atasi Kasus Global

1 month ago 8
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
DPR Tekankan Urgensi RUU Hukum Perdata Internasional untuk Atasi Kasus Global Anggota Komisi III DPR RI I Wayah Sudirta di kompleks parlemen, Jakarta.(ANTARA/HO-DPR)

ANGGOTA Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Sudirta, menegaskan bahwa Indonesia kini berada di titik krusial dalam sejarah hukum nasional. Menurutnya, kebutuhan akan kepastian hukum dalam interaksi lintas negara bukan lagi sekadar diskursus akademis, melainkan keharusan nasional.

Ia menyambut masuknya Rancangan Undang-Undang tentang Hukum Perdata Internasional (RUU HPI) ke dalam Prolegnas Prioritas 2025, yang dinilainya bukan hanya pembaruan regulasi, tetapi deklarasi kemandirian Indonesia dalam percaturan hukum global.

“Ironi terbesar dalam sistem hukum perdata internasional kita saat ini adalah ketergantungan pada aturan yang diciptakan hampir dua abad lalu,” kata Wayan dalam keterangan yang diterima, Kamis (11/12).

Wayan menekankan bahwa harmonisasi aturan menjadi kunci utama. RUU ini harus mampu menyatukan ketentuan yang tersebar dan memastikan tidak ada tumpang tindih dengan aturan sektoral, seperti UU Perlindungan Data Pribadi maupun aturan ketenagakerjaan bagi pekerja migran. 

Menurut dia, aturan HPI terserak dalam berbagai Undang-undang mulai dari Pasal 18 UU ITE, UU Perkawinan, UU Kewarganegaraan, hingga UU Penanaman Modal. 

“Kondisi tambal sulam ini mengakibatkan arah kebijakan hukum menjadi tidak konsisten, dan melemahkan daya saing Indonesia dalam perdagangan serta investasi internasional,” jelas dia.

RUU HPI, menurut Wayan, disusun berdasarkan tiga pilar filosofis yakni kepastian hukum, keadilan, dan pelindungan warga negara. Lebih lanjut, ia menilai Pemerintah telah menunjukkan keseriusan menyampaikan RUU ini melalui Surat Presiden pada Agustus 2025. 

“Sistematika yang diusulkan sangat komprehensif, mencakup 10 bab yang mengatur mulai dari subjek hukum, hukum keluarga, benda, hingga pengakuan putusan asing,” ujarnya.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini menegaskan urgensi RUU HPI semakin nyata ketika melihat tipologi kasus yang berkembang di masyarakat modern, yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan kaca mata hukum abad ke-19. 

Pertama, Indonesia sering dianggap "kurang ramah" bisnis karena putusan pengadilan asing sulit dieksekusi di sini. Kedua, banyak pasangan beda negara menghadapi masalah pelik ("limbo") hukum. Mulai dari masalah double validity (sah di satu negara, tidak di negara lain), hingga perebutan hak asuh anak. 

“RUU ini mendesak penerapan asas Habitual Residence (tempat tinggal sehari-hari) demi kepentingan terbaik anak (best interest of the child),” ujarnya.

Ketiga, bagaimana cara membagi warisan jika pewaris WNI memiliki Bitcoin di server luar negeri. Keempat, fenomena WNI menggunakan jasa ibu pengganti di luar negeri menimbulkan risiko anak tanpa kewarganegaraan (stateless) saat dibawa pulang. 

“RUU HPI harus hadir mengisi kekosongan hukum ini untuk mencegah penyelundupan hukum sekaligus melindungi hak anak,” tegas dia.

Selain itu, Wayan mengatakan sudah ada beberapa isu krusial yang dipetakan bahwa RUU HPI harus menjadi instrumen hukum yang progresif dan antisipatif. Di antaranya RUU harus memperjelas penerimaan atau penolakan terhadap penunjukan kembali (Renvoi). 

“Tanpa aturan yang jelas, perkara bisa menjadi "ping-pong" hukum tanpa henti,” jelas Wayan.
Kedua, menghadapi raksasa teknologi, RUU HPI harus sinkron dengan UU PDP, memungkinkan pengadilan Indonesia menjangkau pengendali data di luar negeri yang memproses data warga Indonesia. 

Kemudian, menutup celah penguasaan tanah oleh asing yang menggunakan nama warga lokal dengan menegaskan bahwa kontrak semacam itu batal demi hukum. 

“Praktik WNA menguasai tanah Hak Milik di Indonesia dengan meminjam nama warga lokal (Nominee Arrangement) adalah rahasia umum yang melanggar UU Pokok Agraria,” ujarnya. (P-4)

Read Entire Article